Laman

Blind spot

Tepat di hari kemarin hati ini rasanya terpukul, tercabik, retak, bahkan pecah tak karuan..
Mungkin ini cara Alloh menegur hamba Nya yang belum juga mau membersihkan hati untuk Nya..
Dan tepat di hari itu pula adalah hari ketika pagi hari nya aku bermimpi tentang dia untuk kesekian kalinya..  Hingga aku tak kuasa menahan jari ini utk mengirim pesan singkat pada nya, hanya utk memberi tahu aku kangen dia..  Meski aku tahu kalo akun punya ku inii telah diblok..

Dan di hari itu pula adalah hari h-2 pernikahan kaka ku, aku selalu berpikir dan memikirkan apa dia akan datang atau tidak, jika ya datang maka dia datang dengan siapa..  Dan bagaimana kiranya aku harus bersikap..  Aku msh belum menemukan jawabannya..  Pdhl sudah ku tanya pada sepupunya.. 

Hingga mungkin kira2 pukul 17 sore sahabat ku menghubungi ku via ig, dan memberi kabar yang menggetarkan hatiku..  Ungkapan pertama yang dia lontarkan..  Bahwa dia yang selama ini aku pikirkan, dia yang selama ini ada dalam doa ku, dia yang selama ini jadi harapanku, iya dia..  Dia sudah punya pacar..

Seketika juga suhu badan ini memanas, seketika juga kepala ini pusing tak menentu, bulu kudukku berdiri, percaya tak percaya..  Namun sahabat ku itu memberikan ku beberapa bukti..  Hingga aku memutuskan untuk mencari info dari sahabat nya..

Hingga......  Ya..  Pada akhirnya aku percaya dengan sepenuhnya..  Berusaha menerima kenyataan..  Bukti yang menunjukkan..  Iya..  Betul..  dia..  dia yang selalu menghantui ku, begitu saja dengan lapangnya memberikan ruang untuk laki2 lain hadir dalam hatinya.. 

Done..  I've done, aku menyerah..  Ini lah yang kusebut titik buta..  Blind spot..  Aku yang sudah berniat mengusahakan nya agar menjadi milik ku nanti..  Sirna sampai disini, dititik ini lah akhirnya aku mendapat jawaban atas segala pertanyaan ku..  Jawaban atas segala doaku..  Meski dia yang selalu aku sebut dikala aku bercerita pada Alloh dalam doaku.. 

Maaf untuk aku yang tak bisa apa-apa hingga detik ini..  Maaf untuk harapanku yang terlalu tinggi padamu..  Maaf untuk aku yang hadir bukan pada tempatnya.. 

Aku..  Yang tak kuat menahan diri ini..  Kebodohan ku membuka hati terlalu lebar padamu,, hingga kamu tak semudah  itu keluar dari hati ini..  Meski seribu wanita mendatangi ku, mengejarku, tapi satu alasan hanya kamu yang membuat ku bisa menahan mereka masuk.. 

Why are u always hurt my heart! Why are u always present on my Dream :( terima kasih untuk telah membantu aku bisa membenci mu, ku harap aku bisa keluar dari titik ini.. 

Silsilah Nabi Muhammad sampai pada Kelahiran



Silsilah keturunan Nabi Muhammad baik dari pihak ayah maupun ibu, merupakan keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim, yakni pada Keturunannya yang bernama Adnan. Ada juga yang meriwayatkan Nabi Ismail adalah nenek yang ke-30 bagi Nabi Muhammad.
Ketika Abdullah bin Abdul Muthalib belum dilahirkan, Abdul Muthollib bernazar bahwa jika anaknya laki-laki ada sepuluh orang, maka salah seorang dari mereka akan dijadikan kurban di muka berhala  Kabah. Hingga genaplah sepuluh orang anaknya, namun anak kesepuluh ini diberi nama Abdullah, ‘Hamba Allah’, berlainan sekali dengan nama saudaranya yang lain. Diantaranya seperti Abdul Uzza, Abdu Manaf, dsb.
Saat Abdulah berumur beberapa tahun, Abdul Muthallib mengumpulkan semua anak lelakinya untuk mengundi siapa yang akan disembelih.  Undian jatuhlah pada Abdullah, padahal dia seorang rupawan, paling muda dan paling Abdul Muthalib cintai. Seketika itu tersiar kabar sampai seluruh penjuru kota Mekah. Kepala agama memperingatkan untuk tidak melaksanakan perbuatan itu, karena akan berdampak pada masyarakat. Sebab Abdul Muthallib merupakan orang yang berpengaruh kala itu. Kemudian nazarnya diganti dan ditebus dengan menyembelih seratus ekor unta.
Dengan kejadian, itu, Nabi pernah bersabda, “aku anak laki-laki dari dua orang yang disembelih.” Maksudnya, Nabi Muhammad itu dari keturunan Nabi Ismail dan Abdullah.
Abdullah bin Abdul Muthalib adalah pemuda ang sangat baik dari bangsa Quraisy, tidak heran dia berjodoh dengan Aminah, putri Wahbin bin Abdu Manaf bin Zuhrah. Keduanya terkenal dengan kemuliaan budi pekerti. Menikah saat keduanya berusia kurang dari dua puluh tahun.
Kurang lebih dua atau tiga bulan setelah hari perkawinan, Abdullah pergi ke Syam untuk berdagang seperti biasa. Aminah tampak sudah hamil. Dalam perjalanan pulang dari Syam, waktu sampai di kota Yastrib (Madinah) mendadak dia jatuh sakit. Kawan-kawan Abdullah yang pergi ke negeri  Syam telah pulang ke Mekah, tetapi meninggalkan Abdullah di rumah seorang keturunan Ady di Madinah.
Setelh tahu kawan-kawan anaknya telah datang, Abdul Muthallib bertanya, “Mengapa Abdulla tidak pulang bersama kalian?” Mereka menjawab, “Abdullah jatuh sakti di kota Yastrib, dan bermalam di rumah seorang dari Bani Ady.”
Ketika itu, Abdul Muthallib sepera menyuruh anak tertua, Harits pergi ke Yatsrib untuk menengok. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut karena Abdullah elah meninggal dunia sejak beberapa hari yang lalu.  Ketika itu Nabi Muhammad sedang berusia kurang lebih tiga bulan dalam kandungan.
Tibalah masa kelahiran Nabi saw, pada Senin subuh, 9 Rabi’ul Awwal Tahun ke-1, tanggal 20 Apri 571 Masehi. Ketika itu, yang menjadi bidan adalah Siti Syifa, ibu sahabat Abdur Rahman bin Auf.  Abdul Muthallib yang sedang thawaf segera membawa anak itu dipeluk dan digendong ke Ka’bah, masuk ke dalam nya sambil bedoa kepada Allah.