Laman

nama adalah gelas


Apa artinya sebuah nama? 
Ada sebuah lagu yang membeberkan bahwa nama tiada gunanya sama sekali. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa nama adalah arti dari segalanya. Saat aku berdiskusi dengan seorang temanku, ia mengatakan kata-kata bijaknya. 
Bahwa nama ibarat sebuah gelas. Saat gelas itu bersih dan mengkilap, orang akan mencari dan membutuhkannya. Tapi saat gelas itu pecah, apa yang bisa kita perbuat? Apakah gelas itu sama sekali tidak berarti? Belum tentu, serpihan gelas itu masih bisa kita satukan, dan diberi lem satu sama lainnya, atau mungkin menggunakan selotip. 
Begitu pula dengan “nama”, iya akan dicari, jika namanya sudah dipercaya dan mengkilap dimata orang. Tapi saat dimana nama itu sudah pecah, atau tercoreng dengan hal keburukan, dia bisa saja diperbaiki, tapi bekasnya tidak mungkin bisa hilang. Kalaupun orang-orang sudah lupa dengan keburukan itu, pasti suatu saat akan terlihat juga. Seperti gelas pecah yang tak terlihat bekasnya dari satu sisi, tapi akan terlihat dari sisi lainnya. 
Maka berhati-hatilah dengan sebuah nama, apalagi jika nama itu yang melekat pada diri kamu. Jagalah dia agar tidak pecah oleh keburukan yang kamu perbuat. Buatlah agar nama kamu semakin bersih, mengkilap, dan dibutuhkan. Karena itu akan melekat pada dirimu sampai kapanpun. 

Abrasi, Finishing & Polishing



*       Restorasi direct, adalah restorasi yang dilakukan di dalam mulut pasien.

*       Restorasi indirect, adalah restorasi yang dilakukan di luar mulut pasien.

*       Finishing, adalah prosedur mengurangi kelebihan material restiratif, membentuk kontur yang tepat, menghasilkan permukaan restorative yang rata.

*       Polishing, adalah prosedur menghasilkan permukaan yang halus dan mengkilap (smooth and gloss). Rata – halus – mengkilap.

*       Abrasi, adalah proses pemakaian dimana suatu permukaan material yang lebih lunak dikurangi untuk bahan abrasive yang lebih keras.

*       Faktor-faktor yang mempengaruhi abrasive;
  1. Ukur partikelnya. Semakin besar partikelnya makin cepat material terabrasif
  2. Susunan partikelnya (iiregularity)
  3. Kehalusan dari bahan partikel abrasif
  4. Jumlah partikel abrasive yang berkontak dengan permukaan material
  5. Kecepatan dan tekanan

*       Macam-macam bentuk bahan abrasive;
  1. Loose abrasive: bubuk dan pasta abrasive. Diklasifikasikan berdasarkan grit (ukuran partikelnya)
  2. Bonded abrasive: partikel abrasive yang diikatkan pada suatu alat, dapat berbentuk point (ujung korek api), disk (cakram), cusp, brush dan wheel.
  3. Coated abrasive: dilapisi pada sisi dari alat abrasive (biasanya pada kertas atau plastik).

*       Material yang digunakan pada proses abrasive:
  1. Diamond: kekerasan pada 10 Moh, mahal, bisa disterilkan, dapat digunakan berulang kali. Bentuk diamond yang halus dalam bentuk pasta digunakan untuk polishing restorasi kompit dan porselen.
  2. Karbida: Tungsten Karbida berfinishing. Kekerasannya skala 9 Moh. Biasanya untuk finishing sebagai material pemotong. Untuk membuat jacket crown.
  3. Silikon karbida: skala kekerasannya 9-10 Moh. Coated disk, bonded rotang devices untuk finishing. (synthetic abrasive)
  4. Alumunium oksida: bubuk putih atau cokelat. (Synthetic abrasive)
  5. Sand: dari quartz dan silica, kekerasan skala 7 Moh. Untuk proses finishing. (Natural abrasive)
  6. Silikon dioksida: skala 6-7 Moh, umumnya sebagai pasta propikalisis.
  7. Purnice: pasta atau bubuk, skala 6 Moh.
  8. Rouge: iron oxyde, skala 5-6 Moh
  9. Tin Oxyde: bubuk (dicampur dengan air atau gliserol). Abrasive yang halus untuk polishing
  10. Calcium carbonate: skala 3 Moh, pasta propilaksis.
*